Penjelasan Syarhus Sunnah Imam Al Barbahari:
Bahwa
Keluar Dari Jalan Yang Lurus Itu Ada Dua Macam: Seseorang Yang Tergelincir Dalam
Keadaan Ia Tidak Menginginkan Kecuali Kebaikan, dan Seseorang Yang Memang
Menentang Kebenaran
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Berkata Al
Imam Al Barbahari Rahimahullahu Ta'ala:
اعلم أن الخروج عن الطريق على وجهين أما أحدهما فرجل قد زل
عن الطريق وهو لا يريد إلا الخير فلا يقتدى بزلله فإنه هالك ورجل عاند الحق وخالف
من كان قبله من المتقين فهو ضال مضل شيطان مريد في هذه الأمة حقيق على من عرفه أن
يحذر الناس منه ويبين لهم قصته لئلا يقع في بدعته أحد فيهلك
Ketahuilah,
bahwa keluar dari jalan yang lurus itu ada dua macam: Adapun yang pertama,
seseorang yang tergelincir dari jalan yang lurus dalam keadaan ia tidak
menginginkan kecuali kebaikan, maka dia tidak boleh diikuti dalam
ketergelincirannya, karena dia binasa (celaka).
(Yang kedua)
seseorang yang menentang kebenaran dan menyelisihi orang-orang yang bertakwa
sebelumnya, maka dia adalah sesat lagi menyesatkan, syaithan yang durhaka. Wajib
bagi orang yang mengetahuinya untuk memperingatkan manusia darinya serta
menjelaskan kepada mereka kesalahannya agar tidak ada seorang pun yang terjatuh
ke dalam kebid'ahannya sehingga ia binasa.
|
Syaikh Allamah
Ahmad bin Yahya An Najmi
Seandainya penulis -Al Imam Al Barbahari Rahimahullah-
membatasi kata "binasa" dan membatasi vonis binasa ini dengan mengatakan: "Maka
dia binasa apabila ia meninggal dan belum bertaubat" niscaya lebih tepat.
Bahwa keinginan baik tidak bermanfaat bagi seseorang
apabila ia berkeinginan baik namun tidak konsisten di atas jalan yang lurus yang
datang dari Allah Subhanahu wata'ala dan Rasul-Nya Shallallahu'alaihi awsallam.
Sebagaimana atsar yang dikhabarkan oleh 'Amr bin Yahya, dia berkata: Aku
mendengar ayahku menyampaikan hadits dari ayahnya, 'Amru bin Salamah Al Hamdani
Radhiallahu'anhu berkata,
"Kami pernah duduk di pintu 'Abdullah bin Mas'ud
radliyallahu 'anhu sebelum shalat zhuhur. Kalau dia keluar, kami berangkat
bersamanya menuju Masjid. Tiba-tiba datanglah Abu Musa Al Asy'ari radliyallahu
'anhu sambil berkata: "Apakah sudah keluar bersama kalian Abu 'Abdirrahman?"
Kami katakan: "Belum." Tatkala beliau keluar, kami berdiri, dan Abu Musa
berkata: "Ya Abu 'Abdirrahman (sebutan untuk Abdullah bin Mas'ud), sungguh aku
baru saja melihat sesuatu yang pasti kau ingkari di Masjid itu. Dan saya tidak
melihat –alhamdulillah- kecuali kebaikan."
Ibnu Mas'ud berkata: "Apa itu?" Abu Musa menjawab: "Kalau kau panjang umur akan kau lihat pula sendiri. Saya lihat di masjid itu sekelompok orang dalam beberapa halaqah sedang menunggu shalat, dan masing-masing halaqah dipimpin satu orang, di tangan mereka tergenggam kerikil, setiap kali pemimpinnya berkata: "Bertakbirlah seratus kali!" Maka yang lainpun bertakbir seratus kali. Pemimpinnya mengatakan: "Bertahlil seratus kali!" Merekapun bertahlil (mengucapkan laa ilaaha illallaahu). Pemimpinnya mengatakan:"Bertasbihlah seratus kali!" Merekapun bertasbih seratus kali.
Ibnu Mas'ud bertanya: "Lalu apa yang kau katakan kepada mereka?"
Abu Musa berkata: "Saya tidak mengatakan sesuatu karena menunggu pendapatmu."
Ibnu Mas'ud berucap: "Mengapa tidak kau perintahkan mereka menghitung dosa- dosa mereka, dan kau jamin tidak akan hilang sia-sia kebaikan mereka sedikitpun?"
Kemudian dia berjalan, dan kamipun mengikutinya sampai tiba di tempat halaqah- halaqah itu. Beliau berhenti dan berkata: "Apa yang sedang kalian kerjakan ini?"
Mereka berkata: "Ya Abu 'Abdirrahman, kerikil yang kami gunakan untuk bertakbir, bertahlil dan bertasbih."
Berkata Abdullah bin mas'ud:
تَخَافُوْنَ أَلاَّ يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ
فَعْدُّوا سَيِّئَتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ لِحَسَنَاتِكُمْ أَلاَ يَضِيعَ مِنْهَا
شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلاَءِ
صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صلّى الله عليه وعلى آله وسلم مُتَوَافِرُوْنَ وَهَذِهِ
آنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ وَثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ
إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُونَ
بَابِ ضَلاَلَةٍ
"Coba kalian
hitung dosa-dosa kalian, saya jamin tidak akan hilang sia-sia kebaikan kalian
sedikitpun. Celaka kalian, wahai ummat Muhamamd! Alangkah cepatnya kalian
binasa. Ini, mereka para sahabat Nabi kalian shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi
wa sallam, masih banyak di sekitar kalian. Pakaian beliau belum lagi rusak,
mangkok- mangkok beliau beliau lagi pecah. Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya.
Sesungguhnya kalian ini berada di atas millah (ajaran) yang lebih lurus daripada
ajaran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam, ataukah sedang
membuka pintu kesesatan?"
Mereka berkata: "Demi Allah, wahai Abu 'Abdirrahman,
kami tidak menginginkan apa-apa kecuali kebaikan!" Beliau berkata: "Betapa
banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak pernah mendapatkannya.
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam telah
menyampaikan kepada kami satu hadits, kata beliau:
أَنَّ قَوْمًا يَقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ
تََرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنْ الدِّيْنِ كَمَا يَمْرُقُوْنَ السَّهْمُ مِنْ
الرَّمِيَّةِ
"Sesungguhnya
ada satu kaum mereka membaca Al Quran tapi tidak melewati tenggorokan mereka.
Mereka lepas dari Islam seperti lepasnya anak panah dari sasarannya."
Demi Allah, saya tidak tahu, barangkali sebagian besarnya adalah dari kalian."
Demi Allah, saya tidak tahu, barangkali sebagian besarnya adalah dari kalian."
Kemudian beliau berpaling meninggalkan mereka. 'Amru bin
Salamah mengatakan: "Sesudah itu kami lihat sebagian besar mereka ikut memerangi
kami di Nahrawand bersama Khawarij." (Diriwayatkan oleh Imam Ad Darimi dalam
muqaddimah, bab: "Karahatu Akhdzir Ra'yi no. 206. Lihat Ash Shahihah no
2005).
Dalam riwayat Ibnu Wadldlah, dia mengatakan: "Sungguh
kalian betul-betul berpegang dengan kesesatan ataukah kalian merasa lebih
terbimbing daripada sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa 'ala
alihi wa sallam?" (Al Bid'ah wan Nahyu 'anha 27).
Ini menunjukkan bahwasanya tidak cukup hanya dengan
keinginan (niat) yang baik saja. Sebab setiap amalan mesti harus memenuhi dua
syarat:
1. Ikhlas hanya untuk Allah Subhanahu wata'ala
semata,
2. Sesuai dengan apa yang telah disyariatkan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam.
2. Sesuai dengan apa yang telah disyariatkan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam.
Ahlul bid'ah selama-lamanya mereka meniatkan apa yang
mereka kerjakan untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu
wata'ala. Akan tetapi mereka tidak tahu jalan yang benar untuk bertaqarrub
kepada Allah Subhanahu wata'ala. Mereka tidak memiliki ilmu yang bisa
menghalangi mereka untuk terjatuh kepada kepada kebid'ahan. Kalau dia
benar-benar menginginkan kebaikan nisacaya Allah Subhanahu wata'ala akan
mudahkan baginya seseorang yang mendakwahi dan menerangkan kepadanya serta
memalingkan dia dari kejelakan ahlul bid'ah, yang senantiasa memperingatkan dia
agar tidak mentaati orang-orang yang memberikan nasihat kepadanya. Sesungguhnya
apabila ia mau bertaubat niscaya Allah Subhanahu wata'ala akan menerima
taubatnya. Namun jika ia tetap di atas kebid'ahannya sampai bertemu dengan Allah
Subhanahu wata'ala maka hal itu merupakan bentuk kurangnya keislaman dia, dan
urusannya ada di tangan Allah Subhanahu wata'ala, apabila Dia menghendaki, Dia
akan mengampuninya, dan apabila Dia kehendaki, tentu Dia akan
menyiksanya.
Kemudian Al Imam Al Barbahari
berkata,
ورجل عاند الحق وخالف من كان قبله من المتقين فهو ضال مضل
شيطان مريد في هذه الأمة حقيق على من عرفه أن يحذر الناس منه ويبين لهم قصته لئلا
يقع في بدعته أحد فيهلك
(Yang kedua)
seseorang yang menentang kebenaran dan menyelisihi orang-orang yang bertakwa
sebelumnya, maka dia adalah sesat lagi menyesatkan, syaithan yang durhaka. Wajib
bagi orang yang mengetahuinya untuk memperingatkan manusia darinya serta
menjelaskan kepada mereka kesalahannya agar tidak ada seorang pun yang terjatuh
ke dalam kebid'ahannya sehingga ia binasa.
Sesungguhnya wajib bagi setiap orang yang mengetahui
kebenaran untuk menolongnya. Siapa saja dari kalangan ahlul bid'ah yang
mengetahui kebenaran dan telah engkau jelaskan kepadanya tentang kebd'ahan yang
ia lakukan akan tetapi ia tetap tidak mau meninggalkannya, bahkan semakin kuat
berpegang degan kebid'ahan tersebut dan mati-matian membelanya maka dia adalah
orang yang sesat lagi menyesatkan. Syaithan yang durhaka sebagaimana yang
dikatakan penulis. Maka sudah selayaknya untuk menjelaskan keadaannya kepada
orang-orang yang tidak tahu dan memperingatkan mereka darinya, sebab dia akan
menipu para penuntut ilmu, menyeru mereka kepada kebid'ahannya, serta menjerat
dan menyesatkan mereka.
Tida ada udzur bagi orang yang mengetahui keadannya
untuk menjelaskan kepada manusia hingga lepas tanggung jawabnya dan
memperingatkan mereka darinya hingga orang-orang yang tidak mengetahui
kebid'ahnnya menjauh darinya.
Dan barangsiapa menyangka bahwa mengingkari ahlul bid'ah
adalah memecah belah umat dan mencerai beraikan mereka maka dia juga sesat.
Karena ia menginginkan persatuan umat di atas kebathilan dan yang seperti itu
tidak diakui oleh Islam. Islam tidak mengakui perkara yang semisal itu, sebab
meninggalkan penjelasan (tidak mau menjelaskan kesesatan ahlul bid'ah) berarti
sama saja menggugurkan jihad yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata'ala
dalam firman-Nya,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ
وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ
الْمَصِيرُ
"Hai Nabi,
berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan
bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan
itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya." (At Taubah: 73)
Dan dalam hadits,
"Janganlah rasa takut kepada manusia menghalangi salah
seorang di antara kalian untuk mengatakan al haq (kebenaran) apabila ia melihat
atau menyaksikannya" (Sanadnya shahih dari Abi Sa'id dalam musnad Ahmad 3/48,
50, 53, 84)
Dan dari segi yang lain, perbuatan seperti itu
menjadikan ahlul bid'ah tambah semangat, berani dan leluasa, bergembira, serta
berbuat kesesatan sesuka mereka. Mereka akan mengajak para pemuda dan menipu
para penuntut ilmu sehingga keadaan semakin genting yang akhirnya sulit untuk
ditanggulangi hanya disebabkan kurangnya dalam menjalankan kewajiban dan tidak
adanya pengingkaran terhadap mereka serta tidak mau memperingatkan manusia dari
bahaya mereka. Seakan-akan orang yang mengatakan perkataan seperti ini hendak
memberikan semangat dan menolong ahlul bid'ah. Barangsiapa yang melakukan hal
itu berarti dia telah menyuburkan bid'ah, mematikan sunnah, dan berusaha
mengubur kebenaran, serta melenyapkannya. Maka dengan hal itu dia berhak untuk
mendapat kemurkaan Allah Ta'ala dikarenakan dia telah melindungi ahlul bid'ah.
Telah datang dalam sebuah hadits bahwa nabi Shallallahu'alaihi wasallam
bersabda,
"Allah melaknat orang yang melindungi ahlul bid'ah."
(Riwayat Muslim)
Maka wajib untuk tidak mendengarkan orang yang berbicara
seperti itu bahkan wajib untuk membungkamnya, sebab ia telah membantu
tersebarnya kemungkaran, berkembangnya bid'ah, dan menguburkan sunnah, serta
menyelisihi perintah Allah Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya untuk beriman tatkala
Allah Ta'ala memerintahkan mereka untuk amar ma'ruf nahi mungkar serta berjihad
fii sabilillah dengan sebenar- benarnya. Dan betapa banyak orang-orang yang
seperti mereka itu di kalangan masyarakat kita. Inna lillahi wa inna ilaihi
raji'un. Wabillahit taufiq.
[Dari Kitab Irsyaadus Saari ila Taudhihi Syarhis Sunnah
lil Imam Al Barbahari, Edisi Indonesia Penjelasan Syarhus Sunnah Imam Al
Barbahari Meniti Sunnah di Tengah Badai Fitnah oleh Syaikh Ahmad bin Yahya An
Najmi, Penerbit Maktabah Al Ghuroba, hal 100-109]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar