Mutiara Berharga bagi Seorang Muslim
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Al Ustadz Abdul Aziz as Salafy
Ketahuilah, Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta`ala
mengutus kita ke muka bumi adalah dalam rangka menjalankan tugas yang mulia.
Yaitu mempersembahkan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala, menegakkan
syariat-Nya, serta memberantas berbagai kemungkaran yang bisa mengundang murka
Allah Subhanahu wa Ta`ala. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman :
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku,
Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki
supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Pemberi
rezeki, yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh."
(Adz-Dzaariyaat:56)
Demikianlah perjalanan hidup manusia yang telah
ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta`ala. Agar mereka menjalani aktivitas hidup
ini sesuai dengan masyi'ah (kehendak)-Nya. Namun dengan kehendak Allah pulalah
maka di antara manusia itu ada yang beriman lagi taat, dan ada pula yang ingkar
lagi menolak untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala. Ini semua
merupakan bukti keadilan Allah Subhanahu wa Ta`ala terhadap segenap hamba-Nya.
Dengan bukti keadilan-Nya Allah hendak menguji para hamba, apakah mereka
benar-benar beriman kepada Allah atau sebaliknya? Dan apakah mereka akan
dibiarkan mengatakan : "Kami beriman," lantas mereka tidak diuji?.
Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman : "Alif Laam Miim, Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan : "kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar. Dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (Al Ankabut : 1-3).
Dan juga Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman : "Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) :
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu, maka di antara umat itu ada
orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya
orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya"(An Nahl : 36)
Syaikh Abdurahman bin Hasan Alu Syaikh menjelaskan bahwa
ayat di atas menunjukkan tentang hikmah diutusnya para rasul, yaitu untuk
mendakwahi umat agar mereka beribadah kepada Allah semata dan melarang mereka
dari beribadah kepada selain-Nya. Ini merupakan agama para Nabi dan Rasul,
walaupun berbeda syariat mereka. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman : "Untuk
tiap tiap umat diantara kamu Kami berikan aturan (syariat) dan jalan yang
terang." (Al Maidah : 48) (Fathul Madjid hal 29 ).
Hendaklah setiap muslim mengetahui bahwa perjalanan
hidup mereka di dalam mencari ridho Allah Azza wa Jalla, tidak akan menuju
kesempurnaan kecuali didasari dengan ilmu syariat. Maka ilmu adalah sarana yang
sangat penting bagi kemaslahatan manusia untuk menjalankan aktifitas hidup di
dunia. Karena ilmu merupakan sumber kehidupan jiwa dalam beribadah kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga tidak akan sempurna dan tegak tatanan kehidupan
manusia apabila ilmu tidak lagi dijadikan pedoman dan jalan hidup mereka. Oleh
karena itu Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan ilmu bagi hati bagaikan
siraman hujan yang turun ke bumi. Jadi sebagaimana tidak ada kehidupan di muka
bumi kecuali dengan turunnya hujan, maka demikian pula tidak ada kehidupan bagi
hati kecuali dengan siraman ilmu.
Di dalam Al Muwaththo -karya Imam Malik- disebutkan :
Lukman berkata kepada anaknya : "Wahai anakku duduklah kamu bersama para ulama
dan dekatilah mereka dengan kedua lututmu (bergaul dengan mereka), maka
sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta`ala menghidupkan hati-hati yang mati dengan
cahaya hikmah sebagaimana menghidupkan (menyuburkan) bumi dengan hujan yang
deras." (Kitab Al Ilmu Fadluhu wa Syarfuhu hal 228)
Oleh karena itu kebutuhan hati manusia terhadap cahaya
ilmu merupakan kebutuhan yang mendesak. Sebagaimana kebutuhan bumi terhadap
turunnya hujan tatkala terjadi kekeringan dan paceklik. Maka ilmu merupakan
mutiara yang sangat berharga bagi setiap muslim. Karena dengan ilmu jiwa-jiwa
manusia akan hidup dan sebaliknya jiwa-jiwa mereka akan mati apabila tidak
dibekali dengan ilmu.
Sebagian orang-orang yang arif berkata : "Bukankah orang
yang sakit akan mati tatkala tercegah dari makanan, minuman dan obat-obatan?"
Maka dijawab : "Tentu saja," Mereka mengatakan : "Demikian pula halnya dengan
hati jika terhalang dari ilmu dan hikmah maka akan mati."
Maka tepat jika dikatakan bahwa ilmu merupakan makanan
dan minuman hati, serta penyembuh jiwa, karena kehidupan hati bersandar kepada
ilmu. Maka apabila ilmu telah sirna dari hati seseorang berarti hakekatnya dia
telah mati. Akan tetapi dia tidak merasakan kematian tersebut. Orang yang
hatinya telah mati ibarat seorang pemabuk yang hilang akalnya (disebabkan
maksiat yang dia lakukan). (Kitab Al Ilmu Fadluhu wa Syarfuhu hal 144-145).
Sesungguhnya sebab utama yang bisa merusak bahkan
mematikan hati adalah maksiat. Jika hati semakin rusak maka cahaya tersebut akan
melemah dan berkurang. Sebagian salaf berkata : "Tidaklah seseorang yang
bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala sehingga (menyebabkan) hilang
akalnya."
Maka tertutupnya hati manusia dari cahaya ilmu,
tergantung dari tingkatan maksiat yang mereka lakukan. Jika semakin banyak dosa
yang dilakukan, maka akan semakin banyak pula celah-celah hati yang tertutup
dari cahaya ilmu, dan semakin sulit terbukanya peluang bagi hati untuk tersirami
dengan cahaya ilmu. Sehingga menyebabkan dia termasuk dari golongan orang orang
yang lalai. Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman : "Sekali-kali tidak (demikian),
sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka." (Al
Muthaffifin : 14), Sebagian salaf menafsirkan ayat tersebut, yaitu : "Dosa yang
dilakukan terus menerus (dosa di atas dosa)."
Berkata Al Hasan : yaitu "Dosa di atas dosa hingga
membutakan hati." (Meriwayatkan darinya (Al Hasan) Abd Ibnu Hamid sebagaimana
dalam (Ad Durul Mantsur : 8/447) (Ad Da`u wad Dawa` hal
95-96)
Oleh karena itu hendaklah kita sebagai muslim senantiasa
menjaga ilmu yang ada di dalam hati dari hal-hal yang akan memadamkannya.
Disertai dengan niat yang ikhlas dan mengamalkan kandungan ilmu tersebut, serta
banyak memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala. Sehingga kita bisa
menepis berbagai pengaruh dosa yang merupakan sebab kelalaian dan kejahilan
manusia. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman : "(Tetapi) karena
mereka melanggar janjinya, kami kutuk mereka, dan kami jadikan hati mereka keras
membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya dan mereka
(sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka diperingatkan dengannya."
(Al-Ma`idah : 5)
Al Imam Syafi`i pernah mengatakan :
Aku pernah mengeluh kepada Imam Waqi` tentang jeleknya hafalanku
Maka beliau membimbingku untuk meningggalkan maksiat
Dan beliau berkata : "Ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya
Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat."
Aku pernah mengeluh kepada Imam Waqi` tentang jeleknya hafalanku
Maka beliau membimbingku untuk meningggalkan maksiat
Dan beliau berkata : "Ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya
Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat."
Ucapan Al Imam Syafi`i tersebut merupakan peringatan
sekaligus nasehat yang bermanfaat bagi kita, jika tidak ingin kehilangan mutiara
yang sangat berharga yaitu ilmu yang bermanfaat.
Akhir kata, kita memohon kepada Allah agar
menganugerahkan Taufik dan Hidayah- Nya, mengokohkan iman kita dengan ilmu yang
bermanfaat di dunia dan akhirat serta tidak memalingkan hati kita kepada
kesesatan dan kebinasaan. Amin Yaa mujiibas saa`ilin.
Wallahu a`lam bis showab.
Sumber: www.salafy.or.id
Sumber: www.salafy.or.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar