Kabar Gembira Dengan Kelahiran Anak
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Salim bin Ali
bin Rasyid Asy-Syubli Abu Zur'ah
Muhammad bin Khalifah bin Muhammad Ar-Rabah.
Muhammad bin Khalifah bin Muhammad Ar-Rabah.
Jeritan Pertama Ketika Bayi Baru
Lahir
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Bersabda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Jeritan anak ketika dilahirkan adalah
(karena) tusukan dari syaitan” [Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (3248), Muslim
(15/128 Nawawi) dan At-Thabrani dalam As-Shaghir (29), dan riwayat yang lain
darinya dan Ibnu HIbban (6150-6201- 6202)]
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
"Tidak ada seorang anakpun yang lahir melainkan syaitan menusuknya hingga
menjeritlah si anak akibat tusukan syaithan itu kecuali putra Maryam (Isa) dan
ibunya (Maryam)”
Kemudian Abu Hurairah berkata: Bacalah bila kalian mau
(ayat yang berbunyi), "Dan aku meminta perlindungan untuknya kepada-Mu dan juga
untuk anak keturunannya dari syaitah yang terkutuk” [Dikeluarkan oleh Al-Bukhari
(3/110 –As-Sindi), Muslim (15/128 Nawawi) dan Abu Ya’la
(5971)]
Anak kecil ini belum mengenal dunia sedikitpun, namun
syaitan sudah menyatakan permusuhan dengan menusuknya. [Lihat Syrahu Shahih
Muslim oleh Imam An- Nawawi tentang hadits ini (15/129-130)]
Lalu bagaimana keadaan si anak jika ia telah dapat
berbicara dan merasakan segala sesuatu. Bagaimana keadaannya jika telah bergerak
syahwatnya untuk mencari dunia atau selainnya. Maka penyesatan dan upaya
penyimpangan yang dilakukan syaitan ini harus dihalangi, karena itulah syari’at
datang untuk melindungi manusia sejak mudanya, bahkan sejak lahir ke dunia ini
hingga nanti menemui Tuhannya.
Kami akan mengumpulkan semua tahapan kehidupan manusia
secara ringkas. Sejak anak manusia belum melewati tujuh hari pertama dari
umurnya, penetap syaria’at telah menerangkan jalan-jalan penjagaan bagi anak
tersebut dan menjelaskan perkara-perkara yang seharusnya dilakukan sepanjang
tujuh hari (dari awal kelahiran anak).
Maka siapa yang mencintai anaknya dan ingin menjaganya
dari syaitan, hendaklah ia mengikuti metodenya sayyidil mursalin
Shalallahu'alaihi wasallam dan beliau bagi kita adalah sebaik-baik pemberi
nasihat.
Beliau Shallallahu'alaihi wasallam sebagaimana
diceritakan oleh Abu Dzar Al-ghifari Radhiyallahu ‘anhu: “Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burungpun
yang membolak-balikkan sayapnya di udara melainkan beliau sebutkan ilmunya
kepada kami”.
Abu Dzar Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada sesuatu yang dapat mendekatkan
ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah diterangkan pada kalian”
[Dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (1647) dan Ash-Shaghir (1/268),
Ahmad dalam Al-Musnad (5/153- 162) baris pertama darinya]
Termasuk upaya penjagaan terhadap anak dari gangguan
syaithan adalah doa seorang suami ketika mendatangi istrinya.
بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ
وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
"Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari
syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau rezkikan kepada
kami”
Maka bila Allah tetapkan lahirnya anak dari hubungan
keduanya itu maka syaitan tidak akan membahayakannya selamanya” [Dikeluarkan
oleh Al-Bukhari (9/228 Fathul Bari), Muslim (10/1434 Nawawi) dan selain
keduanya]
Kabar Gembira Dengan Kelahiran
Anak
Al-Qur'an telah menyebutkan kabar gembira tentang
kelahiran anak dalam banyak ayat dalam rangka mengajarkan kaum muslimin tentang
kebiasaan ini, karena padanya ada pengaruh yang penting untuk menumbuhkan kasih
sayang dan cinta di hati-hati kaum muslimin. [Dinukil dari kitab Ukhti Muslimah
Kaifa Tastaqbilin Mauludikil Jadid, penulis Nasyat Al-Mishri]
Allah Ta'ala berfirman,
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ اسْمُهُ
يَحْيَى
"Wahai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira
padamu dengan kelahiran seorang anak yang bernama Yahya" [Maryam:
7]
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ
"Maka berilah kabar gembira padanya dengan kelahiran
anak yang sangat penyabar" [Ash-Shaaffaat: 101]
قَالُوا لا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ
عَلِيمٍ
"Mereka (para malaikat) berkata: Janganlah kamu merasa
takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran
seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim" [Al-Hijr:
53]
فَنَادَتْهُ الْمَلائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي
الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ
اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ
"Kemudian malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang
ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): 'Sesungguhnya Allah
menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan
kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu)
dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh" [Ali-Imran:
39]
Seharusnya kita kaum muslimin mencintai kebaikan bagi
saudara-saudara kita. Kita turut bahagia dengan kebahagiaan mereka dan turut
sedih dengan kesedihan mereka. jika kita memang orang muslim yang
sebenar-benarnya, maka kita merasa seperti satu jasad. Bila salah satu
anggotanya merasa sakit, maka semua anggota lainnya terpanggil untuk bergadang
dan merasa demam.
Sebagaimana hal ini dimisalkan oleh Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam dalam sabdanya. Akan tetapi di mana kita dari hal yang
demikian itu ? Sementara permusuhan dan kebencian telah menyala-nyala di
kalangan kaum muslimin sendiri dan hasad menjalar di tengah mereka dan kebaikan
telah menipis. Hanya kepada Allahlah tempat mengadu.
Ucapan Selamat Dan Keterangan Salaf
Tentangnya
Tidak ada satu haditspun dari Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam dalam masalah mengucapkan selamat bagi keluarga yang
kelahiran. Yang ada hanyalah atsar yang diriwayatkan dari tabi'in, di
antaranya.
Dari Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah. Ada seseorang
bertanya kepadanya tentang ucapan selamat tersebut ; "Bagaimana cara aku
mengucapkannya ?" Kata Al-Hasan: Ucapkanlah:
"Semoga Allah menjadikannya barakah atas kalian dan atas
ummat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam" [1]
Dari Hammad bin Ziyad ia berkata: "Ayyub As-Sikhtiyani
bila memberi ucapan selamat kepada seseorang yang kelahiran anak ia
berkata:
"Semoga Allah menjadikannya barakah atas kalian dan atas
ummat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam" [2]
Atsar semisal ini jauh lebih baik dibanding ucapan
selamat yang banyak diamalkan manusia pada hari ini.
Namun bersamaan dengan itu kita tidak boleh melazimkan
ucapan selamat ini (seperti tersebut dalam atsar di atas), berbeda bila ada satu
hadits (yang shahih) yang menerangkan tentangnya. Dan kita tidak menjadikan
ucapan tersebut seperti dzikir-dzikir yang tsabit dalam As-Sunnah (yakni kita
tidak terus menerus mengamalkannya karena tidak ada satu hadits pun yang
menyebutkan hal ini, - pent). Siapa yang mengucapkannya kadang-kadang maka tidak
apa-apa dan siapa yang tidak mengucapkannya maka tidak ada
masalah.
[Disalin dari kitab Ahkamul Maulud Fi Sunnatil
Muthahharah edisi Indonesia Hukum Khusus Seputar Anak Dalam Sunnah Yang Suci,
Penulis Salim bin Ali bin Rasyid Asy- Syubli Abu Zur'ah dan Muhammad bin
Khalifah bin Muhammad Ar-Rabah, Penerjemah Ummu Ishaq Zulfa bint Husain,
Penerbit Pustaka Al-Haura]
__________
Foote Note
[1]. Hadits hasan. Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Kitab Ad-Du'a (2/1243) dengan sanad yang rijalnya (rawi-rawinya) tsiqah (orang kepercayaan) selain syaikhnya (gurunya) At-Thabrani yakni Yahya bin Utsman bin Shalih, kata Al-Hafidh tentangnya: "Ia shaduq, tertuduh tasyayyu' (kesyiah-syiahan), dan sebagian ulama menganggapnya layyin (lemah) karena keadaannya yang meriwayatkan dari selain asalnya".
Foote Note
[1]. Hadits hasan. Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Kitab Ad-Du'a (2/1243) dengan sanad yang rijalnya (rawi-rawinya) tsiqah (orang kepercayaan) selain syaikhnya (gurunya) At-Thabrani yakni Yahya bin Utsman bin Shalih, kata Al-Hafidh tentangnya: "Ia shaduq, tertuduh tasyayyu' (kesyiah-syiahan), dan sebagian ulama menganggapnya layyin (lemah) karena keadaannya yang meriwayatkan dari selain asalnya".
Berkata Ibnu Abi Hatim dalam Al-Jarh wa At-Ta'dil
(9/175): "Aku menulis (hadits) darinya dan juga ayahku, dan mereka
memperbincangkannnya".
Dalam Al-Mizan, Ad-Dzahabi berkata: "Ia shaduq Insya
Allah'. Berkata Al-Mundziri dalam At-Targhib (2/17): "Dia tsiqah dan padanya ada
perbincangan".
Kami katakan: orang yang semisal Yahya ini haditsnya
tidak turun dari derajat Hasan.
[2]. Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Kitab Ad-Du'a
(2/1244) dengan sanad yang lemah. Namun atsar yang lemah ini mendukung atsar
sebelumnya. Wallahu a'lam
Catatan Admin Blog Sunniy Salafy: Selain dari ucapan
tersebut, ada ucapan lainnya yang shahih,
بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوْبِ لَكَ، وَشَكَرْتَ
الْوَاهِبَ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ. وَيَرُدُّ عَلَيْهِ
الْمُهَنَّأُ فَيَقُوْلُ: بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَزَاكَ اللهُ
خَيْرًا، وَرَزَقَكَ اللهُ مِثْلَهُ، وَأَجْزَلَ ثَوَابَكَ
“Semoga Allah memberkahimu dalam anak yang diberikan
kepadamu. Kamu pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dan dia dapat mencapai dewasa,
serta kamu dikaruniai kebaikannya.”
Sedang orang yang diberi ucapan selamat membalas dengan
mengucapkan: “Semoga Allah juga memberkahimu dan melimpahkan kebahagiaan
untukmu. Semoga Allah membalasmu dengan sebaik-baik balasan, mengaruniakan
kepadamu sepertinya dan melipat gandakan pahalamu.” [Lihat Al-Adzkar, karya
An-Nawawi, hal. 349, dan Shahih Al-Adzkar lin Nawawi, oleh Salim Al-Hilali
2/713]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar