Hari Pertama Dari Kelahiran Anak
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Salim bin Ali
bin Rasyid Asy-Syubli Abu Zur'ah
Muhammad bin Khalifah bin Muhammad Ar-Rabah.
Muhammad bin Khalifah bin Muhammad Ar-Rabah.
Sunnahnya Tahnik
Pengertian tahnik secara bahasa dan syr’i adalah
mengunyah sesuatu dan meletakkanya di mulut bayi. Maka dikatakan engkau
mentahnik bayi, jika engkau mengunyah kurma kemudian menggosokkannya di
langit-langit mulut bayi.
Dianjurkan agar yang melakukan tahnik adalah orang yang
memiliki keutamaan, dikenal sebagai orang yang baik dan berilmu. Dan hendaklah
ia mendo’akan kebaikan (barakah) bagi bayi tersebut.
Dalil tentang tahnik ini disebutkan dalam beberapa
hadits di antaranya:
Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu berkata,
"Lahir seorang anakku maka aku membawanya ke hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam maka beliau memberinya nama Ibrahim. Beliau mentahniknya dengan kurma dan
mendo’akan barakah untuknya. Kemudian beliau menyerahkan bayi itu kepadaku.”
[Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (5467 Fathul Bari) Muslim (2145 Nawawi), Ahmad
(4/399), Al- Baihaqi dalam Al-Kubra (9/305) dan Asy-Syu’ab karya beliau (8621,
8622)]
Dari Asma binti Abi Bakar Ash-Shiddiq ketika ia sedang
mengandung Abdullah bin Az-Zubair di Makkah, ia berkata, "Aku keluar dalam
keadaan hamil menuju kota Madinah. Dalam perjalanan aku singggah di Quba dan di
sana aku melahirkan. Kemudian aku mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan meletakkan anakku di pangkuan beliau. Beliau meminta kurma lalu
mengunyahnya dan meludahkannya ke mulut bayi itu, maka yang pertama kali masuk
ke kerongkongannya adalah ludah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Setelah itu beliau mentahniknya dengan kurma dan mendo’akan barakah baginya.
Lalu Allah memberikan barakah kepadanya (bayi tersebut).” [Dikeluarkan oleh
Al-Bukhari (5469 Fathul Bari), Muslim (2146, 2148 Nawawi), Ahmad (6247) dan
At-Tirmidzi (3826)]
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Aku
pergi membawa Abdullah bin Abi Thalhah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam ketika ia baru dilahirkan. Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang ketika itu sedang mencat seekor untanya dengan ter. Beliau bersabda
kepadaku “Adakah kurma bersamamu?”. Aku jawab, “Ya (ada)”. Beliau lalu mengambil
bebeberapa kurma dan memasukkannya ke dalam mulut beliau, lalu mengunyahnya
sampai lumat. Kemudian beliau mentahniknya, maka bayi itu membuka mulutnya. Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memasukkan kurma yang masih tersisa di
mulut beliau ke maulut bayi tersebut, maka mulailah bayi itu menggerak-gerakan
ujung lidahnya (merasakan kurma tersebut). Melihat hal itu Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kesukaan orang Anshar adalah kurma”.
Lalu beliau menamakannya Abdullah.” [Dikeluarkan oleh Al-bukhari (5470 Fathul
Bari), Muslim (2144 Nawawi), Abu Daud (4951), Ahmad (3/105-106) dan lafadh ini
menurut riwayat Ahmad dan diriwayatkan juga oleh Al-baihaqi dalam Asy-Syu’ab
(8631)]
Hadits-hadits di atas kiranya cukup untuk menerangkan
sunnahnya tahnik ini dan kiranya cukup untuk menghasung kita bersegera
melaksanakannya.
Berkata Imam Nawawi dalam Syarhu Muslim (14/372): “Dalam
hadits-hadits ini ada faidah, di antaranya: Dianjurkan mentahnik anak yang baru
lahir, dan ini merupakan sunnah dengan ijma’. Hendaknya yang mentahnik adalah
orang yang shalih dari kalangan laki-laki atau wanita. Tahnik dilakukan dengan
kurma dan ini mustahab, namun andai ada yang mentahnik dengan selain kurma maka
telah terjadi perbuatan tahnik, akan tetapi tahnik dengan kurma lebih utama.
Faidah lain diantaranya menyerahkan pemberian nama untuk anak kepada orang yang
shalih, maka ia memilihkan untuk si anak nama yang ia senangi.” [Dinukil dengan
sedikit perubahan]
Akan tetapi tidak ada diriwayatkan dari sunnah kecuali
tahnik denan kurma sebagaimana telah lewat penyebutannya tentang tahnik Ibrahim
bin Abi Musa, Abdullah bin Az-Zubair dan Abdullah bin Abu Thalhah, maka tidak
pantas mengambil yang lain.
Hikmah Tahnik
Ulama telah berbicara tantang hikmah yang terkandung
dalam tahnik dan ada beberapa pendapat yang mereka sebutkan dan mereka
berselisih (berbeda pendapat tentang hikmahnya). Namun tidak ada satu pun dari
mereka yang memiliki sandaran dalil syar’i.
Berkata Imam Al-Aini dalam Umdatul Qari: “Bila engkau
bertanya apa hikmah tahnik? Aku jawab: Berkata sebagian mereka: Tahnik dilakukan
sebagai latihan makan bagi bayi hingga ia kuat. Sungguh aneh ucapan ini dan
betapa lemahnya … dimana letaknya waktu makan bagi bayi dibanding waktu tahnik
yang dilakukan ketika anak baru dilahirkan, sedangkan secara umum anak baru
dapat makan- makanan setelah berusia kurang lebih dua tahun.
Sebenarnya hikmah tahnik adalah untuk pengharapan
kebaikan bagi si anak dengan keimanan, karena kurma adalah buah dari pohon yang
disamakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan seorang mukmin
dan juga karena manisnya. Lebih-lebih bila yang mentahnik itu seorang yang
memiliki keutamaan, ulama dan orang shalih, karena ia memasukkan air ludahnya ke
dalam kerongkongan bayi. Tidaklah engkau lihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam tatkala mentahnik Abdullah bin Az-Zubair, dengan barakah air ludah Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam Abdullah telah menghimpun keutamaan dan
kesempurnaan yang tidak dapat digambarkan. Dia seorang pembaca Al-Qur’an, orang
yang menjaga kemuliaan diri dalam Islam dan terdepan dalam kebaikan. [Umdatul
Qari bi Syarhi Shahih Al- Bukhari (21/84) oleh Al-Aini]
Kami katakan: Ini adalah ludahnya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam adapun selain beliau maka tidak boleh bertabarruk dengan air
ludahnya.
Ilmu kedokteran telah menetapkan faedah yang besar dari
tahnik ini, yaitu memindahkan sebagian mikroba dalam usus untuk membantu
pencernaan makanan. Namun sama saja, apakah yang disebutkan oleh ilmu kedokteran
ini benar atau tidak benar, yang jelas tahnik adalah sunnah mustahab yang pasti
dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, inilah pegangan kita bukan yang
lainnya dan tidak ada nash yang menerangkan hikmahnya. Maka Allah lah yang lebih
tahu hikmahnya.
[Disalin dari kitab Ahkamul Maulud Fi Sunnatil
Muthahharah edisi Indonesia Hukum Khusus Seputar Anak Dalam Sunnah Yang Suci,
Penulis Salim bin Ali bin Rasyid Asy- Syubli Abu Zur'ah dan Muhammad bin
Khalifah bin Muhammad Ar-Rabah, Penerjemah Ummu Ishaq Zulfa bint Husain,
Penerbit Pustaka Al-Haura]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar