Teman Duduk yang Baik dan yang Buruk
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Oleh: Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullaah
Dari Abu Musa radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata:
عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Dari Nabi shallaallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ‘Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk (sepergaulan) yang buruk adalah seperti pembawa misk (minyak wangi) dan pandai besi. Si pembawa misk mungkin akan memberimu (minyak wangi) atau engkau membeli minyak itu darinya atau engkau mendapatkan baunya yang harum. Sedangkan pandai besi, mungkin akan membakar pakaianmu atau kamu dapati bau yang busuk darinya.’” (HSR. Bukhari dan Muslim)
Syarah
Hadits ini menerangkan tentang dianjurkannya memilih teman yang baik dan peringatan dari memilih teman yang buruk. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan dengan kedua permisalan ini (pembawa minyak wangi dan pandai besi, ed), dengan menjelaskan; bahwa teman yang baik, maka semua keadaanmu ada bersamanya serta engkau dalam keberuntungan dan kebaikan. Sebagaimana pembawa misk, engkau dapat mengambil manfaat dengan misk yang ada padanya, apakah sebagai hadiah, ganti (kamu membelinya), atau paling tidak kamu duduk beberapa lama bersamanya dan kamu senang dengan bau harum misk itu. Sedangkan kebaikan yang diperoleh seseorang dari teman duduk yang baik, jauh lebih sempurna dan lebih utama dari sekedar bau misk. Mungkin ia mengajarimu sesuatu yang bermanfaat untuk dunia dan agamamu atau memberimu nasehat dan peringatan agar menjauhi semua yang memudharatkanmu, mendorongmu untuk taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturrahmi, menunjukkan aibmu kepadamu, mengajakmu kepada akhlak yang baik lagi mulia, melalui ucapan ataupun perbuatannya serta keadaannya.
Sesungguhnya, manusia itu senantiasa terdorong untuk meniru teman dan sahabatnya. Tabiat dan ruh bagaikan sepasukan tentara, yang satu menggiring yang lain kepada kebaikan, atau sebaliknya. Minimal, faedah yang dapat diambil dari teman duduk yang baik -dari faedah yang tidak pantas diremehkan- ialah kamu menahan diri dari kemaksiatan atau kejelekan demi menjaga hubungan persahabatan, berlomba-lomba dalam kebaikan dan menjauh dari kejahatan. Di mana dia menjagamu dalam keadaan kamu ada atau tidak ada dan kecintaannya kepadamu memberi manfaat kepadamu. Begitu juga, doanya ketika kamu masih hidup atau sudah mati. Bahkan dia akan membelamu dengan hubungannya bersamamu dan kecintaannya terhadapmu.
Perkara-perkara demikian ini jangan serta merta engkau tolak; seperti terkadang ia menghubungkanmu dengan orang tertentu atau pekerjaan yang bermanfaat manakala engkau menjalin hubungan dengan mereka.
Manfaat teman pergaulan yang baik tidaklah terhitung. Cukuplah seorang dinilai dari teman dekatnya atau menurut agama teman dekatnya.
Adapun bergaul dengan orang-orang jahat adalah kebalikan dari semua yang telah kami uraikan. Mereka mendatangkan mudharat terhadap temannya dari semua sisi. Bahkan, menimpakan keburukan kepada orang yang bergaul dengannya. Berapa banyak yang telah binasa karena mereka. Bahkan, berapa banyak teman mereka tergiring kepada kebinasaan, sadar ataupun tidak.
Oleh karena itulah merupakan salah satu kenikmatan besar yang Allah ‘Azza wa Jalla anugerahkan kepada seorang hamba yang mukmin adalah taufik untuk memilih teman yang baik. Sedangkan, di antara ujian atau bala’ yang diterima seseorang adalah diuji dengan teman yang jahat.
Berteman dengan orang-orang baik akan membawa kepada derajat tertinggi di dalam jannah (surga). Sebaliknya, bergaul dengan orang jahat akan menjerumuskan ke derajat paling rendah di neraka.
Bergaul dengan orang yang baik akan mendatangkan ilmu yang bermanfaat, akhlak yang utama dan amal shalih. Sedangkan bergaul dengan orang yang jahat akan menghalangi seseorang dari semua itu.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
﴿وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَي يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً. يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلاَنًا خَلِيلاً. لَقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِى ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلإِنْسَانِ خَذُولاً﴾
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulaan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaithan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqaan: 27-29)
(Dinukil dari بهجة القلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Mutiara Hikmah Penyejuk Hati, Syarah 99 Hadits Pilihan) karya Al-‘Allamah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Hadits Ke-68: Teman Duduk yang Baik dan yang Buruk, hal. 251-253, penerjemah: Abu Muhammad Harits Abrar Thalib, penerbit: Cahaya Tauhid Press Malang, cet. ke-1 Jumadil Ula 1427H/Juni 2006M, untuk http://almuslimah.co.nr)
تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا إِنَّ السَّفِيْنَةَ لاَ تَجْرِي عَلىَ الْيَبَسِ Kau dambakan keselamatan tapi engkau tak menempuh jalurnya. Sungguh bahtera tak kan pernah berlayar di daratan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar